BnR Hadir Saat Flu Burung Sedang Mewabah

Flu Unggas (Foto: ist)
Flu Unggas (Foto: ist)
Flu Unggas (Foto: ist)

MediaBnR.Com – Banyak kicaumania yang belum memahami kehadiran Yayasan BnR dalam dunia burung. Dunia burung sebelum hadirnya BnR tidak seperti sekarang ini dimana dulu para pedagang dihantui dengan gencarnya wabah flu burung. Para pecinta burung menjual murah burungnya dan ada yang melepaskan burungnya. Tidak seperti sekarang ini burung dengan bebas kita rawat dan tetangga juga tidak complain seperti dulu.

Dampak dari flu burung tersebut adalah hampir semua pasar burung yang ada sepi bak kuburan seperti Pasar Burung Pramuka. Para pedagang dihantui kebangkrutan karena berhentinya perputaran dalam dunia burung. Disaat genting tersebut, sosok pendobrak yang peduli muncul berjuang tanpa pamrih dengan mendirikan yayasan yang diberi nama Yayasan BnR.

Pasar Burung Sepi Akibat Mewabahnya Flu Unggas (Foto: ist)
Pasar Burung Sepi Akibat Mewabahnya Flu Unggas (Foto: ist)

Bang Boy, sang pendiri Yayasan BnR, maju berjuang untuk merubah image tentang flu burung. Perlahan – lahan dia memberikan kepercayaan kepada masyarakat umum bahwa bukan burung yang menyebabkan penyakit ini. Bukan hal yang gampang untuk merubah pemikiran masyarakat Indonesia tentang bahaya flu burung. Dia juga tidak berharap sesuatu dari apa yang telah ia lakukan.

“Tidak sama sekali! Aku bahagia saja melakukan itu karena aku lihat banyak orang yang bergantung pada dunia burung,” kata Bang Boy dengan senyum khasnya.

Bang Boy (Foto: MediaBnR.com)
Bang Boy (Foto: MediaBnR.com)

Kalau sekarang kicaumania yang baru hadir sudah pasti tidak mengetahui apa yang terjadi sebelum Yayasan BnR muncul. Mereka tahu keadaan dunia burung sudah maju seperti ini dan memelihara burung sudah bebas. Sempat terjadi gejolak kembali tentang isu flu burung yang dilontarkan beberapa media. Kembali Bapak Perburungan ini maju menjadi ujung tombak melakukan protes kepada menteri kesehatan.

Dampak Flu Unggas (Foto: ist)
Dampak Flu Unggas (Foto: ist)

“ Ya. aku ajak diskusi jangan penyakit yang ada pada unggas disebut flu burung. Karena pemikiran masyarakat Indonesia, burung penyebabnya. Alhamdulilah akhirnya berubah sampai sekarang yang dari flu burung menjadi flu unggas,” kata Bang Boy menjelaskan.

Begitu sayangnya Bang Boy terhadap dunia burung ini sampai memperhatikan kondisi dunia burung yang mulai kurang kondusif. Beliau menjadi prihatin karena rasa persaudaraan dan kebersamaan mulai hilang perlahan – lahan. Perebutan keangkuhan dan kesombongan dan unjuk kekuatan mulai mewabah di dunia burung. Sanggup kah ia mengtasi keadaan ini sama seperti beliau menghadapi isu flu burung? Sistem adu domba memecah belah kicaumania yang tujuannya hanya satu yaitu supaya produknya bisa menguasai kicaumania.

Dampak Flu Unggas (Foto: ist)
Dampak Flu Unggas (Foto: ist)

Tapi hal yang dilakukan dengan cara tidak terpuji memang di awal akan berjalan mulus.Tetapi di tengah jalan akan berputar 180 derajat. Suasana yang tidak diharapkan pasti akan terjadi. Yang terpenting adalah tidak ada yang melarang untuk mencari sesuap nasi di dunia burung ini.

Jaga rasa persaudaraan kenyamanan kesatuan dalam dunia burung. Jangan pecah belahkan kicuamania untuk kepentingan kantong pribadi. Produk burung tidak akan pernah bisa dikuasai satu produk. Begitu juga dunia burung yang tidak akan pernah satupun yang bisa menjadi raja. Mari kita sadar diri kita yang hidup di dunia burung. Ayo kita jaga dunia burung ini supaya tetap maju! (SF)