
MediaBnR.Com – Mendengarkan indahnya kicauan burung merupakan warisan hobi dari nenek moyang kita turun temurun. Inilah asal muasal sampai akhirnya terbentuk ajang lomba burung berkicau seperti sekarang ini. Seiring waktu, dalam lomba burung berkicau kemudian muncul istilah Bird Club (BC). Ini merujuk kepada adanya dua atau lebih kicaumania yang bersepakat membentuk semacam perkumpulan.
Tujuannya perkumpulan seperti BC sebenarnya sangat sederhana, karena mereka merasa lebih nyaman kalau bisa berangkat ke arena lomba bersama-sama. BC juga mempermudah para kicaumania saat mengurus pernik-pernik di arena lomba, sebab mereka bisa gotong royong atau berbagi bertugas ada yang urusannya memesan tiket, transportasi, mengurus konsumsi dan lain sebagainya.
Seiring dengan tumbuhnya BC, juga muncul istilah Single Fighter (SF).Istilah ini merujuk pada kicaumania yang berjuang ke arena lomba dengan kekuatan sendiri. Biasanya kicaumania SF adalah mereka yang memiliki finansial kuat, punya banyak skuad burung jawara. Pada akhirnya, BC dan SF kemudian berkembang menjadi icon tersendiri, menjadi simbol-simbol kebanggaan seperti layaknya kebanggaan seorang supporter sepakbola pada klubnya.
Kemudian dengan tujuan memberikan apresiasi dan meningkatkan daya tarik lomba, akhirnya para para penyelenggara lomba memberikan hadiah uang dan piala untuk juara umum BC-SF. Namun kicaumania senior Pakde Sodong atau juga dikenal dengan Pakde Halimun mengkritisi tajam besarnya hadiah uang yang diberikan kepada juara umum BC dan SF. “Mestinya hadiah juara BC-SF hanya berupa trophi saja, karena hadiah uang BC-SF menghilangkan sifat fair play dalam lomba burung berkicau,” kata Pakde.
Pakde Halimun memberikan alasannya. “Juara umum BC-SF sebenarnya adalah sebuah apresiasi kepada mereka yang telah bekerja keras merawat burung sehingga mereka memiliki prestasi. Namun karena ada hadiah uang, faktanya banyak burung yang bukan milik sebenarnya dari suatu BC-SF, tapi karena burung jadi juara pertama, maka kemudian ada perwakilan dari BC atau SF yang membujuk-bujuk agar sang pemilik burung juara tersebut mau dicantumkan sebagai bagian BC dan SF. Ini menodai semangat sportifitas dan fair play lomba. Apa bangganya kalau jadi juara BC-SF tapi burung tersebut bukan burung milik sendiri dari BC-SF tersebut?” kata Pakde Halimun lagi.
Fakta lainnya, lanjut Pakde Halimun, kerap terjadi para pemenang juara umum BC dan SF ada yang tidak mengambil hadiah uangnya, alias uangnya dikembalikan kepada penyelenggara. “Akibatnya juri-juri hanya memenangkan burung-burung tertentu, karena kalau pemenangnya juara BC dan SF tertentu, maka hadiahnya kembali pada mereka. Akhirnya burung-burung yang layak justru tidak mendapat penilaian yang semestinya. Pada akhirnya ini sangat merugikan sportifitas dan fair play lomba burung berkicau,” jelasnya. (red)


