Irul juragan kios burung Jogja bermental baja tembus pemikat daerah sumatra

Irul di depan kios burungya seputar Godean Yogya

Oknum aparat itu terus menggertak Irul, memaksa minta ‘jatah uang PUNGLI’ saat di pelabuhan Bakahueni, Lampung, karena Irul menolak maka oknum tersebut memaksa ambil sebagian burung yang ada di dalam mobil  Irul, yang barusan menjelajah Padang, Riau, Jambi. TIndakan oknum tersebut memancing kemarahan Irul, akhirnya menelepon relasi di salah satu kantor aparat setempat, akhirnya semua selesai oknum tersebut ditangani oleh yang berwajib. Kejadian menegangkan itu sudah biasa bagi Irul pemilik kios burung ‘IRUL’  yang berada di daerah Berjo, Godean, Yogyakarta.  Sudah bertahun-tahun mengelola kios burung dengan penuh sabar melayani kicau mania Yogya dan luar kota, dengan konsep mengambil sendiri burung-burung ke Sumatra.

 

Irul di depan kios burungya seputar Godean Yogya
Irul di depan kios burungya seputar Godean Yogya

Irul sebenarnya awak otobis jurusan Yogya Sumatra, sejak 7 tahun lalu, namun  di sela-sela waktu istirahat di daratan Sumatra, dimanfaatkan untuk mencari celah pengepul dan pemikat burung di berbagai belahan kota sepanjang Sumatra, setelah mendapatkan informasi keberadaan burung kemudian dijemput, dan dibawa ke Yogya dengan bis nya. Namun sudah 1 tahun terakhir Irul tidak lagi  berprofesi di dunia otobis tersebut, karena memutuskan konsentrasi mengelola kios burung IRUL ini, agar bisa lebih fokus melayani kicau mania, namun berbekal jaringan yang dikuasai selama  bertahun-tahun itu, saat ini IRUL lebih memilih membawa mobil sendiri ke daratan sumatra hingga ke pinggiran hutan. Bisanya perjaanan dari Yogya ke sumatra ini dilakoni selama seminggu lebih, sehingga biaya yang dikeluarkan untuk perjalanan  ini pun tidak kurang dari 5 juta rupiha, namun Irul menyiasati dengan mencoba membawa produk dari Yogya yang juga dijual di Sumatra, dan pulangnya membawa ratusan burung, karena tanpa itu biaya operasionalnya bisa menguras kentungan dari jual beli burungnya.  Dari Yogya biasanya Irul  yang kelahiran Palembang 2 Februari 1978 ini, membawa sangkar, kenari, lovebird, pakan hidup, dan perlengkapan burung memenuhi pesanan dari relasi di Sumatra, dirasakannya kentungan dari penjualan ini saja sudah sanggup menutup sebagai operasional perjalanan menjemput burung di Sumatra ini.

Hasil menjelajah di Pulau Sumatra, juga dar penangkaran, siap di bawa ke Yogya
Hasil menjelajah di Pulau Sumatra, juga dari penangkaran, siap di bawa ke Yogya

Dalam 1 bulan setidaknya Irul bisa menjual 800 ekor  burung  di kiosnya, dari berbagai jenis burung endemik Sumatra, seperti Kacer, Cucak Ijo, Auriventer, Murai Batu, Cililin, Kolibri, karena setidaknya 2 kali dalam sebulan Irul disempatkan nembus daratan Sumatra ditemani 2 rekannya yang sekaligus menjadi cadangan sopir, karena dalam membawa burung, mobil tidak boleh berhenti istirahat agar burung bisa bertahan hidup, mengingat dalam 1 mobilnya  kadang berisi hingga 600 ekor burung jenis kecil dan besar, yang kesemuanya diakali dengan cara mengemas tempat burung menggunakan dus bekas yang disekat, dan disusupi setiap bagiannya dengan makanan seperti pisang, dan ulat hongkong. Dalam setiap ekpedisi nya  selama 7 hari ini, untuk membeli pakan pisang dan lainnya tidak cukup dengan biaya 1 juta.

Sampai saat ini Irul merasa nyaman menekuni dunia kicau mania, karena dari sinilah hobi dan bisnis bisa  menyatu, namun memang untuk menjalankan usahanya ini Irul butuh dukungan banyak relasi aparat dan birokrat di daratan Sumatra, mengingat tantangan di perjalanan yang begitu liar, bahkan sudah biasa mendapatkan tantangan akan dirampok & dibegal dalam perjalanan pulang dari Padang ke Yogya. Mengamankan usahanya ini butuh dana jutaan rupiah per bulan, namun baginya selama semua berjalan lancar, dan untuk memuaskan kicau mania, tidak masalah baginya menganggarkan biaya keamanan tersebut.

Dalam perjalanan dari daratan Sumatra hingga ke Yogya, ada burung yang mati dalam perjalanan sudah biasa, meski itu mengurangi keuntungan tapi itu bagian dari resiko usaha yang sudah disadari, “Sekitar 5 sampai 10 ekor mati diperjalanan itu biasa, karena memang daya tahan dan mental burung tangkapan itu berbeda, meski di Sumatra sudah dikondisikan 1 minggu agar bisa adaptasi.” ujar Iru merasa biasa dengan kondisi ini.

 

upload2
Bersama istri menekuni usaha kios burung, banyak sahabat banyak saudara

Cara memikat burung

Saat ini Irul mengandalkan penjualan dan informasi stok burungnya melalu media online, “Setidaknya 70% pembeli kios burung saya mendapatkan informasi dari media online, seperti PBOJ (Pasar Burung Online Jogja Jateng, red),biasanya saya khabarkan jika akan datang ratusan stok burung dari Sumatra, cukup diposting singkat, nanti respon dari online akan datang sendiri, kadang malah kerepotan saya nglayaninya, karena kedatangan saya sudah dinanti-nanti penggemar burung ini” tandas Irul sambil bersyukur. Dijelaskan Irul,  teknologi ini tidak saja dalam pemasaran, namun dalam memiikat burung sekarang para pemikat ini juga menggunakan bantuan suara rekaman burung. Untuk memikat Cucak ijo pemikat sekarang dengan menggunakan seekor Cuca Ijo betina yang diikat senar pancing sekitar 50 cm, dan ditautkan ke tongkat pancing sepanjang kurang lebih 6 meter, ketika betina itu mau terbang, muter-muter dalam kaitan tongkat pancing, maka berteriak-teriak, suara itulah yang memanggil jantan Cucak Ijo datang, dibantu dengan rekaman digital suara betina cucak Ijo yang dibunyikan secara keras, sehingga memancing suasana dalam keheningan hutan.Spontan jantan Cucak Ijo akan hinggap di tongkat pancing  6 meter tersebut, yang sebenarnya sudah dilumuri pulut dengan kualias super.

“Sehingga jarang sekarang dapat mudah Cucak  Ijo yang mulus bulunya, karena memang menggunakan pulut lebih aman” jelas Irul menerangkan cara memikat yang aman. “Berbeda dengan memancing Auriventer” tambah Irul.

Yah memikat Aurienter lebih mudah, menurut Irul Auriventer model koloni, sehingga dengan sangkar jebakan khusus, yang masuk dalam jebakan dalam jumlah yang banyak. Untuk memancing Murai Batu, bisa menggunakan betina dalam sangkar jebakan, juga bisa dengan jantan yang gacor didukung rekaman audio digital yang dikeraskan, sehingga jantan lain dalam teritorial tertentu merasa terusik jika ada murai jantan lain yang masuk dalam area kekuasaannya. Model pulut dan jebakan sangkat lebih aman untuk murai batu, daripada menggunakan pancing ikan, atau pakan pembius.

Irul memotivasi para pemikat yang biasanya sekitar 5 sampai 8 orang ini dengan memodali pembelian pulut, burung pemikat misal Cucak Ijo yang gacor, kemudian para pemikat membayar burung pikatan kiriman Irul dengan mencicil sekian kali, hingga lunas, “Dengan cara memodaili dahulu, ikatan emosi saya dengan pemikat jadi semakin kuat” tambahnya sambil menutup perbincangan ini dengan reporter BnR di Yogya (Ipan – 53BF10AA)

 

upload
Saat kedatangan Ketua PBOJ (kaos biru) strategi pemasaran Kios Irul, 70% dengan media online, terutama Pasar Burung Online Jogja Jateng di Facebook

 

Barisam Cucak Ijo di kios Irul Godean Yogya
Barisan Cucak Ijo di kios Irul Godean Yogya

 

upload 4
Ruang dalam Kios Irul untuk adaptasi burung-burung dari pulau Sumatra

 

Barisan sangkar di Kios Irul
Barisan sangkar di Kios Irul

 

auriventer
Auriventer dari Kepulauan Riau di kios Irul Yogya

 

Murai dari Penangkaran di Sumatera juga menjadi relasi  Irul
Murai dari Penangkaran di Sumatera juga menjadi relasi Irul

 

upload3
Perburuan di daratan Sumatra tidak semata ke pemikat, sering membawa burung prestasi di bawa ke tanah Jawa

 

nyebrang
Senyum tentram saat berhasil menyeberang dari daratan Sumatra ke Tanah Jawa tanpa ada PUNGLI yang menjerat

 

upload 3
Gaya Irul ketika ‘mbolang’ seminggu di daratan Sumatra