Telaga Enterprise

Bogor (24/07/2018) – Ternyata untuk membangun dan mempertahankan pondasi dari sebuah EO terutama didunia perburungan tidaklah mudah, karena tidak dapat diukur dengan uang atau dengan kata lain cukup modal saja. Namun yang paling utama adalah memikirkan bagaimana caranya si EO tersebut sejak awal launching grafiknya dapat terus bertahan dan stabil dari sisi kehadiran para peserta baik itu skala latihan ataupun latpres.

Mungkin dari semua kota yang ada di seluruh Indonesia, kota Bogor tidak hanya kita sebut kota sejuta angkot karena kini sudah layak juga kita sebut kota sejuta EO perburungan, bahkan jarak antara satu sama lain bisa sangat berdekatan. Bagi kicaumania yang baru menginjakan kakinya di kota Hujan ini tidak perlu khawatir untuk menggantangkan jagoannya, karena hampir setiap hari banyak tempat pilihan untuk bisa kita datangi.
Dari mulai Senin sampai hari Minggu, tidak bisa gantang di siang hari, malam pun jadi. Itu hanya untuk wilayah Kotamadya saja loh, belum lagi kalau kita gabungkan dengan EO yang ada di wilayah Kabupaten. Dan kalau sudah begini sepertinya kita sudah bisa mengundang Jaya Suprana untuk memberikan penghargaan MURI sebagai kota yang memiliki gantangan terbanyak se-Indonesia.

Namun tanpa kita sadari dampaknya adalah pada akhirnya para pecinta burung jenis-jenis tertentu membuat sebuah komunitas tersendiri. Mengapa demikian, karena banyak faktor yang akhirnya mereka saling membuat janji untuk berkumpul di satu titik. Salah satu penyebabnya adalah rasa kekecewaan terhadap beberapa EO baik itu soal jumlah hadiah, soal pakem atau bisa juga mereka merasa tidak fair dalam penilaian. Akhirnya munculah kata “Kapok” dan mereka sepakat untuk tidak datang lagi kelapangan tersebut.
Dari sekian banyak EO, Telaga Enterprise dibawah komando Antho JIP menjadi salah satu EO yang dipilih oleh komunitas para pecinta Kacer untuk menjadi tuan rumah sebagai tim pengadil di acara KOPDAR si “Hitam Putih”. Sebanyak 4 sesi khusus untuk jenis burung Kacer dan semua sesi terisi full, bahkan jauh sebelum acara dimulai ternyata 3 sesi dikelas Kacer tiketnya sudah habis terjual.
Sebut saja KPK (Komunitas Pecinta Kacer) yang bermarkas didaerah Cidebog ini ternyata sejak bulan November 2017 hingga saat ini sudah beranggotakan sebanyak 90 orang. Harus kita akui bahwa ikatan mereka sangatlah kuat, begitu juga seperti yang di utarakan oleh Sang Ketua yaitu KPK Agung Santoso. Besar harapan bahwa dengan adanya KOPDAR Kacer pada hari itu menjadi sebuah ikatan silaturahmi yang kuat antar sesama komunitasnya.
Sedangkan untuk komunitas yang menamakan dirinya KMGP (Kacer Mania Gunung Putri) merupakan perwakilan anak daerah yang berasa dari Gunung Putri Bogor. Saat ini mempunyai anggota sebanyak 20 orang saja dan tidak menutup kemungkinan keanggotaannya akan terus bertambah banyak, mengingat saat ini sudah mulai bibit-bibit baru para penghobi kicauan jenis Kacer di wilayahnya. Alhasil gelaran hari itu berakhir dengan sukses tanpa ada kendala sedikitpun dan para komunitas Kacer pun mengemukakan rasa puasnya terutama dalam hal penilaian terbukti dengan seiring waktu terbenamnya matahari mereka masih tetap bertahan hingga sesi terakhir. (RD)


