Kedewasaan Dalam Sebuah Perlombaan

Luar Biasa. Kelas Cucak Hijau Pun Full Gantangan (Foto: kadir)
Kelas Lovebird Paling Bergengsi. Kusumo Milik H Sigit WMP Rajai Kelas Ini (Foto: kadir)
Suasana Lomba (Foto: Dok. mediaBnR.Com)

MediaBnR.Com – Seorang anak kecil duduk di depan sedangkan bapaknya duduk di belakangnya sambil menggendong sangkar burung murai. Mereka mengendarai sebuah sepeda motor butut yang menjadi andalan keluarga itu. Saya berusaha mengikuti mereka kemana perjalanan bapak dan anak itu. Ternyata mereka mendatangi sebuah event lomba burung.

Saya tidak ada hentinya mengamati apa yang mereka lakukan. Sang bapak menurunkan sangkar burung Murai Batu dan sang anak menunggu di sampingnya. Seteleh membuka kerodong terlihat seekor Murai Batu yang tampak siap untuk bertanding. Sejenak saya berusaha mendekati sambil berusaha menguping apa yang bapak – anak itu perbincangkan. “Nak doakan ya agar Si ARIEL mau bernyanyi dengan lantang seperti suaranya Ariel Noah biar ibumu senang kita bisa membawa uang lebih biar kita bisa membeli tas sekolahmu dipasar,” Kata sang bapak kepada anak.

“Aamin Ya Allah, bapak mau mainkan berapa kali?“ jawab sang anak dibarengi dengan pertanyaaan.

“Duite Cuma bisa untuk main 1x aja nak. Bapak hanya punya uang Rp. 200.000, mudah – mudahan jadi rejeki kita. Doakan ya nak. Coba kamu tolong belikan tiketnya ya, yang harga Rp. 100.000,- biar ada sisanya buat kita beli makanan,” Jawab bapak tersebut menjelaskan.

Sang anak pun mengangguk sambil pergi meninggalkan sang Bapak untuk membeli tiket dan sang Bapak berusaha menyetel murai batu andalannya itu sambil meminta jangkrik dan kroto pada kicaumania didekatnya. Tidak berapa lama kemudian, lombapun dimulai dan ternyata SI Ariel Murai Batu andalan bapak-anak itu rupanya kurang bekerja dengan maksimal dan hanya mendapatkan koncer nominasi sehingga para juri di dalam lapangan tidak menunjuknya menjadi juara.

Melihat keadaan itu sang anak terlihat bersedih. “Sudahlah nak, mungkin ini bukan rejeki kita, yang penting kita selalu bersyukur percayakan pada juri yang menilai. Alhamdulillah uang kita masih kembali tho. Mudah-mudahan minggu depan menjadi rejeki kita. Ayo kita latih Si Ariel biar bisa bernyanyi lantang minggu depan,” Kata sang bapak sambil berjalan menuju sepeda motornya.

Sang anakpun mengangguk tanda setuju, lalu mereka pun pulang meninggalkan event perlombaan.

Saya beranjak untuk mengamati lomba di kelas lainnya, Murai Batu kelas bergengsi dengan tiket senilai Rp 400.000. Seorang pemilik burung sebut saja Mr Bravo yang datang dengan menggunakan mobil tampak berdiri di dekat pagar pembatas dan sang jokinya sudah siap untuk menggantangkan burung andalan. Setelah penilaian juri selesai, burung Mr Bravo meraih juara 3. Sekilas adalah suatu kebanggaan meraih juara 3 dan dari segi hadiah pun mendapatkan hasil yang tentunya menguntungkan.

Melihat itu saya yang berdiri di samping Mr Bravo merasa ikut gembira walaupun tidak ikut punya burung, namun saat saya menoleh ke Mr Bravo tidak ada raut muka gembira di wajahnya. ada apa gerangan ya? Hal itu membuat saya penasaran dan mengikuti Mr Bravo, sambil sedikit menguping pembicaraan antara Mr Bravo dan perawat burungnya.

”Gimana tuh juri burung. Kerjanya burung kita dahsyat kaya gitu kok cuma dikasih juara 3. Payah penilaiannya juri itu apa ngga denger tembakaan burung kita, semprul,“ Ujar Mr Bravo

Mendengar Mr Bravo mengomel seperti itu membuat sang perawatpun terpancing emosinya dan orang – orang disekitarnya ikut juga mengomentari kinerja juri yang ada sehingga habislah para juri dicaci – maki kicaumania tersebut dan bahkan merembet kepada EO yang menyelenggarakan kegiatan lomba burung.

Fenomena perlombaan tentunya begitu banyak macamnya ketidak puasan dan kebahagian bercampur aduk di arena perlombaan. Tentunya tidaklah mungkin juri bisa memuaskan seluruh peserta yang ada karena memang juri hadir adalah untuk menilai dengan segala kekurangan dan kelebihannya serta resiko yang diterimanya.

Dua kejadian yang ada dalam satu event lomba di atas tentunya bisa menjadi pelajaran tersendiri bagi saya untuk mejadi seperta apa jati diri kita sebagai seorang kicaumania. Selalu ada pilihan bagi setiap insan manusia untuk menjadi apa dia nantinya. Tetapi paling tidak pelajaran yang paling berharga yang saya dapatkan adalah kepuasan sebenarnya tidak lagi berpatokan pada hasil yang diraih tetapi apa yang menjadi motivasi kita dalam berlomba.

Dalam setiap orang yang mengikuti sebuah perlombaan pastinya datang bukan untuk kalah tetapi kata – kata siap menang dan siap kalah menunjukkan siapa sesungguhnya kita ini sendiri. Namun tentunya kedewasaan yang dimiliki oleh kicaumania bukan menjadi alasan pembenar bagi sebuah EO untuk berbuat seenaknya dalam penyelenggaraan lomba. Sebuah EO mempunyai tanggung jawab yang besar untuk memberikan yang terbaik dalam pelaksanaan lomba dan itu saya yakin bisa terjadi jika terjadi satu visi untuk memberikan yang terbaik bagi kicaumania bukan untuk menyenangkan seseorang, tetapi justru menyakiti orang yang lebih banyak. (Ari Andhika/BnR Riau)

TAGGED: