
JAKARTA – Banyak kicaumania sekarang merasakan dan ikut mengamati dunia perburungan ini semakin mundur jauh di saat lomba G bermunculan.
Dapat kita lihat hasil lomba tidak pernah menjadi perbincangan para kicaumania seluruh Indonesia, begitu juga hadiah mobil atau motor sudah menjadi hal biasa sekarang ini. Burung siapa pun yang menang di lomba G tidak menjadi kekaguman kicaumania sekarang ini ? mengapa?.
“Mereka yang berlomba itu saja dan ketemu burung itu saja, dengan pemain ya itu saja, di mana rasa kebanggaan burung kalau bisa juara? Sekarang kita analisa bersama berapa orang yang istilah member dan berapa klas lomba itu bisa kita bayangkan di mana jiwa tarungnya kalau setiap lomba ketemu itu saja. Tapi berbeda dengan lomba kolosal 72 gantangan burung dari semua lapisan digantang jadi satu nggak usah muluk -muluk masuk 10 besar aja sudah jadi pembicaraan kicaumania se-nusantara dan berbulan-bulan jadi omongan. Kalau lomba G menang dapat mobil paling satu Minggu kemudian kabarnya hilang kayak biasa aja dengernya. Juara di tiket 100 ribu aja burung sudah menggemparkan dunia perburungan yang nawar juga antri. Kalau saya pribadi tetap ke lomba kolosal karena jujur saya lomba sekalian mau jualan burung dan bisa jual burung hanya di lomba kolosal,” kata Riki Halim.
Kalau kita amati ucapan dari salah satu kicaumania ini memang riil adanya kalau kita bicara penjurian lebih terbuka G kata siapa? Malah kalau jeli, permainan juri bukan tidak ada. Kalau diperhatikan dengan jeli oleh peserta malah lebih parah, tapi lebih halus coba diamati benar.
Jadi bagaimana pun kebanggaan kicaumania sejati adalah lomba kolosal burung dengan burung dengan semua lapisan.


