Tak banyak orang di yang mempunyai hobi dan kepedulian tinggi terhadap hewan. Namun bagi gadis asal Cimahi, Bandung ini, peduli dengan hewan di sekitarnya merupakan hal penting baginya. Bukan sekadar memelihara dan merawatnya, tetapi juga menampung anjing-anjing yang tidak terurus lagi oleh si empunya. Bahkan, Liza Pieters juga sengaja ‘berburu’ banyak anjing yang terlantar di jalanan untuk kemudian dirawat di rumahnya layaknya sebagai manusia.
Kecintaannya terhadap hewan, khusunya anjing yang terlantar itu dimulai sejak tahun 2004, berawal ketika Liza Pieters ingin membeli seekor anjing yang rencananya untuk dijadikan teman bagi seekor anjing yang sudah terlebih dahulu dimiliki oleh keluarganya. Namun setelah ia sudah menemukan anjing pilihannya dari sekian banyak yang ditawakan oleh breeder, ternyata ada seekor anjing yang begitu menarik perhatiannya. Anjing itu menurutnya kurus sekali dan matanya mengeluarkan air, seperti seorang manusia yang sedang menangis. Awalnya ia tidak terlalu tertarik, karena anjing yang terlebih dulu dipilih olehnya jauh lebih baik kondisinya. Namun ketika ia meminta anjing tersebut untuk di keluarkan dari kandangnya, “Oh my God, anjing ini ketakutan dan benar-benar sedang menangis,” kenang wanita kelahiran 14 Januari 1980 ini.

Ketika itu wanita berparas cantik ini mengakui anjing tersebut tidak mau didekati oleh siapapun, hanya oleh nyalah anjing itu mau didekati dan seolah mau diajak berinteraksi. Ia merasakan ada kontak batin dengan anjing tersebut. Karena itulah diapun terpanggil untuk memelihara serta merawatnya, lalu memutuskan untuk mengambil anjing tersebut dan membawanya pulang, dengan meninggalkan anjing yang terlebih dahulu sudah dipilihnya tadi di tempat breeder asalnya. Sambil berkata di dalam hatinya, ia berjanji untuk merawat anjing itu dengan sebaik-baiknya, dan akan membuatnya bahagia serta memperlakukannya seperti keluarga. Lalu Liza pun memberikan nama Barbie untuk anjing tersebut.
“Anjing adalah makhluk hidup yang sehari-harinya berada di sekitar kita, yang tentunya mempunyai perasaan sedih dan juga senang, seperti layaknya manusia. Jadi perlakukanlah mereka juga secara manusiawi,” katanya mengingatkan. Karena itu ia katakan paling tidak tega melihat makhluk hidup jika disia-siakan, terlebih jika hewan itu adalah hewan peliharaan, yang sudah seharusnya diramut dengan baik dan benar oleh majikannya. “Saya bahkan berani memarahi seorang majikan yang menelantarkan hewan peliharaannya, dan saya juga berani membeli hewan itu dari tangan orang tersebut,” tambahnya lagi.

Memang seluruh keluarga Liza di rumahnya di bilangan Cimahi, Bandung, Jawa Barat sangat menyayangi hewan anjing dari jenis apapun. Dan menurutnya ada peraturan khusus yang berlaku bagi keluarganya, kalau semua anjing yang ada di dalam rumahnya tidak boleh di panggil dengan nama jenis hewan itu sendiri. Melainkan dengan panggilan ‘anak-anak kecil’. Ini semua dilakukan demi untuk mengikat hubungan emosional dengan hewan-hewan peliharaannya. Dan caranya memperlakukan hewan-hewan itu sungguh menakjubkan, bukan hanya memberinya makan dan tempat tinggal yang layak, serta perawatan ke dokter. Semua anjing dirumahnya diajarkan beretika, dan tertib bagai mendidik anak-anak manusia.
Kini Liza memiliki 9 anjing dari berbagai jenis, yakni; 3 ekor Yorkshire, 1 ekor min pom, 1 ekor maltese, 1 ekor poodle,1 ekor anjing campuran, dan 2 ekor beagle yang kini menjadi ‘anak-anak’nya dan untuk dirawat di rumahnya. Bukan hanya anjing tetapi ia juga memiliki dan merawat beberapa kucing, termasuk kucing liar yang singgah di rumahnya.
Perbuatan Heroik.
Kisah yang paling mengharukan dan sekaligus membanggakan bagi Liza adalah, ketika di suatu hari di dalam perjalanan membawa mobil, tiba-tiba ia dikagetkan oleh anjing yang berada di tengah jalan. Tanpa pikir panjang dan resiko yang akan terjadi, ia pun menghentikan mobilnya seketika itu juga. Seekor anjing peking hampir tertabrak mobil lain. Ia pun bergegas turun dan mengusir anjing tersebut untuk ke pinggir agar tidak tertabrak, sambil menghalangi mobil-mobil lain untuk lewat. Tindakannya ini sungguh beresiko tinggi dan tentu saja membahayakan kesalamatannya.

Bukan hanya itu, ia meninggalkan kendaraannya dengan mesin yang masih menyala, untunglah mobil dan beberapa barang di dalam mobilnya masih aman. Sebab, bisa saja kesempatan itu dimanfaatkan orang yang berniat jahat. Akibat aksinya itu, antrian panjang kendaraanpun tidak terelakan, bising bunyi klakson dan suara teriakan orang beramai-ramai memarahinya. Dengan penuh ketenangan dan rasa percaya diri diapun kembali melangkah berjalan ke mobilnya sambil berlagak bagai seorang artis dan berkata “Ok ok, no more song yeeee,” begitu ingatnya. Ketika itu ia bersyukur, baik bagi dirinya, juga kendaraan dan barang-barang yang berada di dalam mobilnya semua baik-baik saja, termasuk anjing yang berada di tengah jalan tadi
.
Membawanya Pulang
Karena kecintaanya yang begitu tinggi terhadap hewan, Liza pun berniat membawa pulang anjing yang baru saja diselamatkannya. Namun rupanya anjing itu sudah pergi meninggalkan tempat kejadian. Setelah sekian lama mencarinya di tengah cuaca hujan, akhirnya ia menemukan anjing tersebut sedang bersembunyi di balik semak-semak. “Whooaalaaah, kepalanya terlihat oleh saya. Ya sudah saya hampiri saja anjing itu dan saya peluk,” tukasnya. Walau sebenarnya ada niat dari dirinya untuk mengembalikan anjing tersebut kepada si pemiliknya. Namun dia tidak tahu, harus kemana mengembalikannya, karena ia sendiri tidak melihat arah datangnya anjing itu sampai bisa berada di tengah jalan raya.

Anjing yang baru saja Liza selamatkan, kemudian ia peluk sepanjang perjalanan pulang menuju ke rumahnya. Sambil berkata lirih kepada anjing tersebut, “now you safe with me, and you have to be happy with me,” katanya perlahan. Dan sejak saat itu, anjing tersebut ia beri nama Happy. Tidak sia-sia ia menamakan anjing tersebut dengan nama Happy. Sebab, anjing tersebut kemudian bertingkah layaknya seorang manusia yang selalu bahagia, senang, ceria, dan suka bercanda dengan anjing-anjingnya yang lain.
Hingga pada suatu hari, Tuhan pun memanggil anjing tersebut untuk berpulang, tanpa melewati proses sakit. Hal yang tidak akan pernah hilang dari ingatannya, begitu mengharukan kisah hidup bersama Happy. Meskipun sedih, namun Liza merasa bangga, karena sudah melakukan kebaikan bagi makhluk hidup, dan banyak hikmah yang di petik dari sini. “Anjing itu telah mengajarkan saya bagaimana cara menjalani hidup, tidak perduli seberat apapun masalah yang kita hadapi, tetap harus sabar, tabah, dan mencoba selalu ceria dan bahagia” katanya. (Okki Mareno)


