Media BnR (15/05) – Bagi para pencinta unggas dan komunitas kicau mania di Jawa Barat, nama Pasar Burung Cikurubuk di Tasikmalaya tentu sudah tidak asing lagi. Lebih dari sekadar tempat transaksi jual beli, pasar ini telah bertransformasi menjadi episentrum bagi dunia perburungan panggung nasional. Cikurubuk kini memegang reputasi sebagai rahim yang melahirkan burung-burung jawara sekaligus menjadi roda penggerak ekonomi kerakyatan yang luar biasa.
Salah satu daya tarik utama Pasar Burung Cikurubuk adalah kualitas unggas yang ditawarkan. Pasar ini dikenal sebagai tempat berkumpulnya para peternak (breeder) lokal berbakat dan pengepul kawakan. Dari sinilah banyak lahir burung-burung dengan kualitas terbaik—mulai dari suara masteran yang jernih, mental petarung yang kokoh, hingga fisik yang prima. Tidak sedikit burung yang awalnya dibeli dari kios-kios sederhana di Cikurubuk, setelah dirawat dan dilatih, berhasil menembus podium utama di berbagai kontes dan perlombaan besar nasional. Reputasi inilah yang membuat para pemburu burung juara (kicau mania) dari luar kota, seperti Bandung, Jakarta, hingga Jawa Tengah, rela datang langsung ke Tasikmalaya demi berburu “permata tersembunyi” di pasar ini.
Daya tarik Cikurubuk tidak berhenti pada pesona burungnya saja. Perputaran uang yang tinggi di pasar ini juga dipicu oleh industri pendukung, terutama penjualan sangkar burung. Kebutuhan akan sangkar—mulai dari sangkar harian yang ekonomis hingga sangkar ukir custom bernilai jutaan rupiah—selalu tinggi setiap harinya.
Setiap minggu, ratusan unit sangkar bertukar tangan. Tingginya permintaan ini menciptakan ekosistem bisnis yang solid dan menjadikan Pasar Cikurubuk sebagai salah satu barometer utama dalam perputaran ekonomi dunia perburungan, khususnya di Priangan Timur.

Keberadaan Pasar Burung Cikurubuk membawa dampak sosial-ekonomi yang sangat nyata bagi masyarakat Tasikmalaya. Pasar ini menjadi wadah yang sangat ramah bagi para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Banyak pihak yang menggantungkan hidup dan sukses berkembang lewat ekosistem pasar ini, di antaranya:
Pengrajin Sangkar Lokal: Pengrajin bambu dan kayu di sekitar Tasikmalaya mendapatkan saluran distribusi utama untuk produk mereka.
Peternak (Breeder) Rumahan: Memberikan ruang bagi peternak skala kecil untuk memasarkan hasil tangkaran mereka secara langsung tanpa perantara yang merugikan.
Penyedia Pakan dan Aksesori: Mulai dari penjual jangkrik, ulat, kroto, hingga pakan pabrikan dan vitamin burung ikut kecipratan untung harian.
Pedagang Kuliner: Warung kopi dan makanan di sekitar pasar ikut hidup berkat ramainya pengunjung yang datang dari berbagai daerah.
Pasar Burung Cikurubuk Tasikmalaya adalah bukti nyata bagaimana sebuah hobi mampu menciptakan multiplier effect (efek domino) yang positif bagi perekonomian. Dengan predikatnya sebagai barometer dunia perburungan, tempat lahirnya burung jawara, dan pusat perputaran uang yang tinggi, pasar ini tidak hanya memanjakan para pencinta burung, tetapi juga menjadi pahlawan bagi pertumbuhan UMKM lokal. RD

