
MediaBnR.Com – Kalau kita lihat setiap di lomba – lomba burung ada yang merasa tidak puas dan bicara juri nggak beres. Sebenarnya kalau kita teliti dengan seksama sebenarnya kurang pahamnya pakem penilain tentang burung. Beranggapan burung kerja maksimal itu wajib masuk dalam nominasi dan wajib juara. Padahal banyak faktor yang dapat menghantarkan burung tersebut menjadi juara. Bukan hanya bicara durasi kerja maksimal setelah itu apakah dan bagaimana irama lagu burung tersebut? Contoh di pakem BnR burung murai nembak – nembak saja bisa masuk nominasi?
“Ya nggak bisa kalau di BnR dari irama lagu kecilnya dinilai kemudian bagaimana burung itu menyusun atau memindah lagunya. Kemudian dilihat tonjolannya atau tembakanya hanya satu jenis atau bervariasi. Kalau hanya satu lombang aja nembak celilin minta masuk nominasi ya kita gantung celilin aja. Nggak perlu kita gantung murai batu kalau burung tersebut diprotes harus masuk nominasi. Namanya aja lomba burung berkicau jadi kicauannya seperti apa itu yang kita nilai!” kata Bang Boy menjelaskan.

Sama juga di kelas kacer kalau kita lihat di BnR kacer lebih dominan yang ngerol speed rapet volume dahsyat ada tonjolan yang menang. Bukan yang nembak – nembak diam yang dicari oleh Juri BnR yang menonjol di lapangan karena tembakannya. Di sini yang harus dipelajari oleh peserta lomba bukan melihat burung kerja harus masuk nominasi. Tapi dengan seringnya mengikuti lomba lambat laun yang belum paham akan pakem. Akan tahu dan mengerti bagaimana pakem penilaian tentang burung di lomba burung berkicau.
“Perlu belajar dulu tentang pemahaman pakem penilaian tentang burung baru ikut lomba burung. Kita bisa lihat type burung kita – kira kira burung kita dengan type seperti itu bisa masuk tidak. Kemudian perhatikan burung yang mendapatkan nominasi dan bandingkan dengan burung kita. Tapi membandingkan secara jujur bukan secara egos dan mau menang sendiri. Supaya bisa tahu harus bawa burung seperti apa di lomba burung,” pesan Bang Boy.
Sebenarnya kalau kita selalu mengkambing hitamkan juri itu terlihat ketidak mampuan burung kita saja. Karena kalau kita memang mempunyai burung yang berkualitas dan kalah karena kualitas juga harus dihadapi dengan lapang dada. Kalau kita melihat suatu kekalahan burung dengan gagah berani dan mengakui secara jantan. Pasti kita akan menjadi pemain yang handal dan terkenal karena apa? Karena kita mau belajar dari kekalahan dan memperbaiki kekalahan kita dengan merawat burung secara maksimal. Tapi kalau kita sudah menyalahkan burung sampai kapanpun burung kita tidak akan pernah menguasai lomba burung.

“Yang penting belajar pakem kemudian rawat burung atau cari burung yang prospek dan selalu mencari kekurangan burung kita. Kalau kita mengeathui kekurangan burung kita dan kita selalu perbaiki. Aku yakin burung tersebut bisa menjadi juara dan tidak memusingkan kinerja juri,” kata Bang Boy.
Para kicaumania mari kita sama – sama kembali belajar pakem penilaian burung di lomba burung. Selalu kita rawat burung kita dan tidak segan – segan mencoba dan bertanya secara baik – baik kekurangan burung kita. Karena dengan seperti itu perlahan – lahan kita akan bisa tampil di lapangan dengan memperoleh predikat juara.


