
Mediabnr – BnR Indonesia dari dulu selalu menerapkan lomba yang non teriak. Karena Juri menilai burung dengan mendengarkan menggunakan telinga. Mari kita amati bersama didalam suatu lomba burung sekarang ini ada beberapa alasan dari peserta.
- Takut burungnya tidak terpantau.
- Memang sudah menjadi kebiasaan
- Takut kalah
- Burungnya tidak maksimal.
Kita bicara dan bertanya pada hati kita sendiri 4 faktor diatas menyebabkan peserta teriak. Bagaimana menurut orang nomor satu dalam menanggapi hal hal tersebut. “Lah Juri kan mendengarkan suara burung kalau teriak terus yang bisa didengarkan oleh Juri apa?. Jangan bicara tidak terpantau apalagi Juri BnR mereka dididik menilai burung bukan dengan mata tapi dengan telinga. Sering aku lihat teriak lalu aku kasih tau burung udah kerja seperti itu kok diteriakin mas. Untuk apa lihat burung kerja maksimal ee nggak lama burung menjadi juara. Kalau burung sudah kerja maksimal tidak mungkin Juri tidak mendengarkan yang jadi masalah ini hayoo kita sama sama lihat dan buktikan. Perhatikan peserta yang teriak dan lihat burungnya pasti burung itu baru setengah jalan kerja. Jadi tidak dari awal sampai akhir burung itu kerja bisa ditengah ada jeda pada saat akhir kerja teriak hampir putus lehernya. Berbeda dengan peserta yang burungnya kerja awal tengah akhir hayoo kita bertaruh”. kata Bang Boy dengan senyum khasnya.
Apa yang disampaikan BnR satoe benar kita sama sama melihat bagaimana peserta dilapangan. Kadang ada awal burung biasa saja ditengah mulai kerja langsung teriak teriak minta perhatikan karena burungnya mulai kerja. Jadi kedewasaan seorang peserta dalam lomba burung sekarang ini memang menurun. Padahal sangat mudah para peserta melihat burungnya dipantau tidak oleh Juri lihat hasil rekapan jelas terlihat. (red)


