Terminal Pleci Pasar Burung Bratang Surabaya Layani Luar Pulau, Omzet Hingga Puluhan Juta

Sejak popularitas burung yang memiliki nama latin Zosteropidae merangkak naik di belahan bumi Indonesia. Sejak itu pula, Juki, penjaga stand A3-A4 di pasar burung Bratang Surabaya yang dipercaya sang juragan melayani pesanan burung yang juga disebut burung kacamata karena lingkaran putih dimatanya seperti sedang memakai kacamata.

Hampir setiap bulannya ratusan burung Pleci diserbu Pleman baik dari kota Surabaya maupun Jatim. Bahkan tak jarang Juki meladeni pesanan dari luar pulau. Diantaranya, Samarinda, Balikpapan, Makasar dan Bali. Tak semua jenis burung Pleci mampu didatangkan. Dari ratusan jenis Pleci yang ada. Terminal Pleci, begitu Ia menamakan stand yang dikelolanya. Hanya tiga jenis yang bertengger di bilik-bilik stand dagangnya. Yaitu jenis Auriventer, Mata Putih dan Montanus.

Jenis Auriventer lebih banyak diburu Pleman

Diantara tiga jenis tersebut, untuk jenis Auriventer dan Mata Putih menjadi perburuan teratas para Pleman setiap kali burung baru datang. “Nggak sampai sebulan Pleci yang baru kami datangkan ludes dibeli mereka (Pleman, Red),” tutur Juki. Masih katanya, dalam sebulan, untuk jenis Auriventer mampu terjual sebanyak 400-500 ekor. Sedangkan untuk jenis Mata Putih bisa mencapai 400 ekor. Bahkan sekitar lima bulan lalu, saat Pleci sedang tenar-tenarnya. Terminal Pleci mampu melayani penjualan hingga 800 ekor.

Harga pun bervariasi, dilihat dari usia dan bunyi sang burung tersebut. Untuk bakalan sekitar usia lima bulan jenis Auriventer dibandrol 300 ribu. Mata Putih 200 ribu dan Montanus 50-100 ribu. Sedangkan untuk burung yang sudah ½ jadi atau siap lomba. Untuk Auriventer dibandrol dengan harga kisaran 1,5-8 jeti. Mata Putih, dari harga 500 ribu – 4 juta. Montanus mulai 750 ribu – 2,5 juta rupiah. Dari ketiga jenis Pleci yang Juki sediakan. Jenis Montanus memang berada di level terendah dalam segi penjualan. Pasalnya, disamping tingkat kesulitan dalam perawatan. Faktor lamanya untuk gacor, menjadi pertimbangan untuk para Pleman menjadikannya sebagai gaco.

Ramainya kelas Pleci hampir disetiap gelaran, baik latber hingga lomba gede. Permintaan burung yang sejatinya hidup secara berkelompok di alam liar. Membuat Juki beserta dua juragannya Johanes dan Bambang. Kelimpungan meladeni pesanan yang meningkat secara signifikan. “Dua pekan lalu kami kirim Mata Putih ke Jakarta. Sekarang (pekan lalu, Red) mereka minta kirim lagi. Padahal kami sudah kehabisan stok,” ucap pria yang bermukim di kawasan Rungkut Surabaya.

Dari penjualan burung Pleci, omzet puluhan juta mampu diperoleh hanya dalam sebulan. Bahkan sekitar enam bulan lalu, dalam sebulan mampu mengumpulkan pundi-pundi rupiah hingga 15 juta. Seiring berjalannya waktu dan semakin menjamurnya pedagang burung Pleci yang bermunculan di setiap daerah. Kini untuk mendapatkan omzet dengan angka tersebut sangat berat rasanya.

Layani Sangkar Cungkok Pleci

Sangkar Cungkok Pleci

Menyelam sambil minum air, pepatah inilah yang diterapkan dalam manajemen Terminal Pleci. Memanfaatkan ramainya burung Pleci saat ini. Tak hanya menjual burung Pleci. Melalui mandat sang juragan, Juki juga melayani penjualan sangkar cungkok Pleci. Sangkar yang didatangkan langsung dari negeri tetangga yang terlebih dahulu meramaikan Pleci, Singapura.

Pemasarannya pun hingga luar pulau, seperti Samarinda, Balikpapan, Banjarmasin, Makasar dan Bali. Begitupun Pleman negeri Jiran, sempat memesan sangkar yang keseluruhan bahannya terbuat dari bambu. “Mereka beli di kami karena faktor kepercayaan dan kedekatan,” tutur Juki pada BnR. Dari segi hargapun terbilang murah meriah. Untuk ukuran 20 cm dibandrol 600 ribu, 22 cm 650 ribu, dan 24 cm 700 ribu. Demi kepuasan pelanggan, untuk pengiriman sangkar tersebut. Jasa ekspedisi pun menjadi pilihan tepat agar keutuhan sangkar tetap terjaga sampai lokasi tujuan.

(Stefanus) 

TAGGED: