
MediaBnR – Alkisah di sebuah negeri hiduplah seorang lelaki, Pak Ali namanya. Pak Ali berprofesi sebagai sopir ojek dengan 3 anak sedangkan istrinya adalah tukang cuci pakaian. Istrinya bekerja dari pagi hingga siang hari. Ketika pekerjaan istrinya selesai barulah Pak Ali berangkat bekerja. Krn mereka hidup berlima. Harus bergantian menjaga anak.Sejak muda Pak Ali memang hobi burung. Di rumah nya ada 2 ekor burung. Suatu hari Pak Ali melihat di koran bahwa di kotanya akan diadakan Kontes Burung Berkicau. Dalam hatinya ia ingin sekali merasakan ikut kontes nasional untuk pertama kalinya. Dengan tekad bulat Ali mulai menabung dari penghasilannya sebagai tukang ojek yg bisa dibilang tidak menentu. Setelah menabung selama 2 minggu terkumpullah sejumlah uang utk mendaftar tiket. Ia pun sms untuk mendaftar tiket. Karena tidak mempunyai rekening, hari Sabtu pagi-pagi ia sudah meluncur ke tempat pengambilan tiket sekaligus membayar. Tiket sudah di dapat, Hari Minggu nya Pak Ali pergi ke kontes Nasional tersebut dengan mengajak putra sulungnya.
Hari itu sangat terik. Pak Ali menunggu giliran jadwal mainnya yang cukup lama. Karena tiket yang di beli Pak Ali dimainkan siang menjelang sore. Saat anaknya merengek minta dibelikan minuman dingin, Pak Ali dengan sabar menjawab “Nanti ya nak, ayah tidak punya uang lagi. Jika burung ini menang kita akan mendapatkan hadiah uang, ayah akan membelikan minuman dingin untuk kamu”. Tak lama berselang sesi dimana Pak Ali membeli tiket dimainkan. Burung Pak Ali kerja cukup bagus, selama sesi berlangsung Pak Ali sangat senang. Ia berharap burungnya akan menang. Saat bendera favorit diberikan burung Pak Ali sama sekali tidak dapat satupun. Terlihat dari wajah Pak Ali ia kaget. Karena sistem penilaian tanpa nominasi dan ada sistem tos, ia berharap mungkin nanti akan di tos untuk masuk 10 besar.
Betapa kagetnya Pak Ali saat hasil nilai keluar, jangankan di tos. Hanya 1 juri yang memberikan nilai “mentok” alias 38. Pak Ali bergegas ke ruang juri. Menanyakan mengapa burungnya hanya mendapat nilai seperti itu. Pak Korlap menjawab “Burung bapak kurang rajin pak durasinya”. Pak Ali membela diri. Burung saya kerja cukup baik. Saya juga membandingkan dengan burung lainnya Pak. Kalo seperti ini jujur saya kecewa ikut lomba nasional ujar Pak Ali. Bukan mendapat jawaban yang baik, salah satu juri justru berujar “ndak datang lagi yo ndak popo pak”. Kalimat tersebut sangat menohok hati Pak Ali. Pak Ali pulang dengan kekecewaan yang mendalam.
Mungkin cerita diatas pernah dialami oleh beberapa dari kita. Setidaknya Pak Ali sungguh pernah mengalaminya. Pernahkah para korlap, para juri atau juri tersebut berpikir mungkin orang yang datang lomba memerlukan usaha sampai harus menabung sekian lama dari hasil kerjanya. Dan ketika dilombakan burungnya kerja maksimal justru sama sekali tidak dipantau. Profesi juri adalah amanah, mendalat kepercayaan dari ratusan bahkan ribuan penonton yang melombakan burungnya. Sudah sepantasnya amanah tersebut dijalankan dengan sebalik-baiknya. Bukannya arogan menyuruh orang tidak usah datang lagi. Jalankanlah amanah dengan sebaik-baiknya kelak besar upahmu baik di dunia maupun di sorga.
Semoga dunia perburungan Indonesia makin jaya. Wasalam..


