Yang Tersisa dari Launching BnR Jogjakarta: Didahului Sarasehan, Diakhiri Panen Pujian

Sebagian Peserta Sarasehan Foto Bareng Bang Boy (Foto Dok. MediabnR.com)

Berikut komentar yang berhasil dikumpulkan di lapangan:

Iskandar Atjeh (Ketua Panitia)

Atjeh (Foto Dok. MediabnR.com)
Atjeh (Foto Dok. MediabnR.com)

Iskandar Atjeh merasa gembira, puas, dan bangga karena even Launching BnR berlangsung sukses. “Terimakasih sekali kepada semua teman-teman panitia. Sebab, karena kerja barenglah semua bisa terlaksana. Terimakasih kepada teman-teman peserta atas kerjasamanya, mengikuti lomba dengan tertib. Terimakasih kepada para sponsor dan semua pihak yang telah memberikan suport penuh kepada kami. Terimakasih kepada Bang Boy dan segenap pengurus BnR Pusat yang telah memberikan motivasi luar biasa kepada kami di daerah. Semoga ini pertanda baik bagi BnR DIY untuk terus maju dan berkembang.”

Aris Exellent BF (Bursa Jogja)

“Salut dengan kegiatan sarasehannya. Benar-benar mencerahkan dan memberikan wawasan baru kepada kami di Jogja. Mungkin tiap EO bisa saja punya pakem berbeda, tapi kalau bisa dijelaskan sebelumnya, lebih mudah bagi kami untuk memahaminya. Kami berharap BnR Jogja bisa berkembang bersama kami, saling mendukung dan berbagi dengan EO lain yang sudah ada, juga dengan semua kalangan kicaumania di Jogja.”

Kelik (Foto Dok. MediabnR.com)
Kelik Jenggot (Ketua PPK 1 Parikesit Klaten) (Foto Dok. MediabnR.com)

Kelik Jenggot (Ketua PPK 1 Parikesit Klaten)

Kelik adalah ketua Peternak Papburi Klaten Kelompok 1 Parikesit, yang setiap hari Sabtu menggelar kontes khusus kenari di Balai Desa Dompyongan, Jogonalan, Klaten.

“Tadinya kami ragu-ragu apa benar BnR akan menilai dengan teliti dan fairplay. Maklum, kami bisa dikatakan orang baru di sini. Sementara bisik-bisik menyebut sejumlah burung pemiliknya atau yang menggantang sudah dekat atau kenal dengan panitia atau juri. Diiringi rasa penasaran, kami serombongan pun nekad berangkat ke Jogja. Hasilnya sungguh luar biasa. Kami sekarang percaya para team juri BnR memang bekerja dengan hati nurani. Itu kuncinya. Kalau soal kemampuan teknis kami percaya di EO lain pun sesungguhnya juga mampu, tapi kadang ya itu soal hati nurani yang bisa membuat hasilnya bisa berbeda,” jelas Kelik yang pada 9 November mendatang dipercaya menggelar kontes khusus kenari Dandim Cup.

M Adrian  (Sukoharjo)

M Adrian Sukoharjo sudah banyak malang melintang melombakan burung. Ini mungkin pengalaman awal turun di BnR, karena BnR memang jarang turun ke blok tengah. “Kami sering dijailin, bahkan di lomba sekelas latber pun sering digoreng. Tak jauh-jauh, belum lama ini burung yang sama di kontes sekelas latber nilainya mati, tapi di sini dengan kinerja kurang lebih sama, musuh lebih banyak dan kualitas lebih merata, bisa juara 1,” jelasnya.  Suasana lomba pun disebutnya sangat nyaman dan kondusif. “Tiak perlu teriak, tidak ada gontok-gontokan baik antar peserta – juri, maupun peserta dengan peserta. Kalau lomba seperti ini insya Allah kami siap datang lagi lah.”

Bambang Lodoyo (Blitar)

Bambang Lodoyo asal Blitar adalah salah satu kicaumania kawakan yang kembali turun ke lapangan. Bambang pun mengaku terkesan dengan lomba BnR kali ini, terutama dalam hal penjurian. “Baguslah, saya terkesan. Masukan, ke depannya lomba supaya bisa lebih awal sehingga selesai tidak terlalu sore mengingat waktu penilaian cukup lama. Hitungan penggantangan juga perlu dipercepat, kalau perlu 1-5 saja sudah cukup, sehingga tidak banyak waktu terbuang.”

Anto (Foto Dok. MediabnR.com)
Anto Kalasan (Foto Dok. MediabnR.com)

Anto Kalasan

Anto Kalasan adalah salah satu juri senior independen di Jogja, Anto menjadi salah satu yang ditunjuk oleh panitia untuk masuk dan ikut menjadi ‘pengawas’ penilaian. Agar tahu bagaimana BnR menilai, juga bisa tahu bagaimana menentukan nominasi, apakah murni usulan objektif, atau jangan-jangan ada pesan-pesan untuk memaksakan burung tertentu bisa masuk.

“Secara umum bagus, perdebatan menjelang nominasi misalnya juga objektif, murni usulan dari juri, korlap, IP, berdasarkan kinerja burung. Bahwa ada satu dua peserta yang mungkin mengeluh merasa burungnya kurang dipantau, ya itu saya kira masih dalam batas kewajaran. Kalau masukan paling ya soal waktu mungkin bisa dibuat lebih efektif misalnya dalam merekap nominasi, mengingat jumlah kelas cukup banyak dan durasi penilaian juga cukup lama.”

Itok (Lovebird Shop)

Itok adalah penggagas bursa lovebird di pasar burung Solo. Sengaja datang ke Jogja, selain untuk melombakan jagoannya, juga untuk melihat dari dekat bagaimana lomba BnR baik penilaian maupun manajemen lomba secara umum. “Bagus mulai dalam mengelola ketertiban peserta tanpa harus terlalu kaku, juga dalam kontrol burung khususnya lovebird, di mana itu memang spesialisasi dari kami.” (Bil/Hry/Dir)